Cara Sukses Memulai Bisnis Online E-Commerce

Dunia yang semakin maju membuat para pelaku bisnis harus pandai mencari sebuah peluang baru untuk memulai sebuah bisnis

Berbagai media baru bermunculan, namun tak banyak orang melihat dan mencoba untuk menggunakan kesempatan ini.

Salah satu bentuk media baru adalah e-commerce.

Mungkin Anda pernah mendengar tentang e-commerce. Atau Anda pernah terjun langsung dalam aktivitas e-commerce namun tidak menyadarinya.

Apa sebenarnya e-commerce itu?

Seperti apa bentuk dari e-commerce? Lalu, Hubungannya dengan SCM?

Semua pertanyaan Anda akan dibahas dalam artikel ini.

Mari kita mulai.

E-commerce

Jika Anda hendak membuka sebuah usaha dan berniat untuk melakukan transaksi jual beli secara online, maka ada hal yang perlu Anda pahami mengenai dunia internet.

Pertama, mengenai e-commerce.

E-commerce merupakan aktivitas dalam penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran produk, dan jasa melalui sistem elektronik.

Bisa melalui internet, tv, situs web, atau jaringan komputer lainnya.

Biasanya e-commerce juga melibatkan transfer dana secara elektronik, pertukaran data elektronik, sistem manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis.

Ada satu poin yang menarik.

Sebenarnya dunia internet itu sepi. Jika kita membuat sebuah website, belum tentu orang-orang mengetahui website kita.

Jadi jika Anda berminat dalam bisnis online dan e-commerce, hal ini merupakan peluang yang sangat baik untuk dicoba.

Setelah memahami dan mendapat gambaran mengenai e-commerce, mari kita lanjut ke pembahasan berikutnya.

Model bisnis e-commerce

Mari kita bahas mengenai model bisnis dari e-commerce.

Secara umum ada 3 model e-commerce :

  • Customer to Customer (C2C)
  • Buyer to Buyer (B2B)
  • Buyer to Customer (B2C)

C2C

Dalam model customer to customer, jika Anda bekerjasama dengan platform tertentu, ada 2 jenis aktivitas transaksi yang dapat Anda lakukan.

  1. Clasified

Yaitu jenis tranksaksi yang mempertemukan pembeli dengan penjual secara langsung di dunia digital.

Maksudnya secara langsung adalah, dari tidak ada ikut campur dari pihak platform.

Platform hanya sebagai pajangan saja dan tidak bertanggung jawab atas penjual produk / jasa.

Untuk membayar produk / jasa yang dipesan, pembeli dapat langsung mentransfer uang ke rekening penjual.

Contoh: OLX, Berniaga, dan FJB-Kaskus.

  1. Marketplace

Jenis transaksi yang mempertemukan pembeli dengan penjual secara tidak langsung (melalui situs).

Platform sebagai penyedia jasa online ikut bertanggung jawab atas kegiatan transaksi yang dilakukan.

Jika ada transaksi dari pembeli ke penjual, uang yang ditransfer pembeli akan masuk ke rekening situs terlebih dahulu.

Penjual akan mendapatkan uang, setelah terlebih dahulu mengisi form pengajuan pencairan dana ke situs tersebut.

Contoh: Bukalapak, Groupon, dan pembelian sticker di LINE.

B2B

Model buyer to buyer merupakan model kerjasama yang dilakukan antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya.

Bentuk kerjasamanya berupa permintaan support email.

Bisa juga pemasangan gambar produk dari perusahaan yang akan mengenalkan, menawarkan produknya melalui perusahaan penyedia jasa online.

B2C

Banyak perusahaan retail menggunakan model ini dalam bertransaksi.

Buyer to customer merupakan e-commerce yang dimana semua proses jual-beli dilakukan melalui sistem yang sudah diterapkan oleh situs retail yang bersangkutan.

Oleh karena itu, kegiatan jual-beli di retail relatif aman, namun biasanya pilihan produk yang tersedia tidak terlalu banyak, atau hanya fokus ke satu atau dua kategori produk.

Contoh: Berrybenzka, Zalora, dan Lazada.

Sebagai info, kita akan membahas lebih dalam mengenai buyer to customer daripada 2 jenis model yang sudah dijelaskan sebelumnya.

SCM The Kitchen of E-commerce

Apa itu SCM?

Supply chain management disingkat SCM adalah proses produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen dari sudut struktural.

Sebuah supply chain (rantai suplai) merujuk kepada jaringan yang rumit dari hubungan yang mempertahankan organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dalam menyampaikan kepada konsumen.

Mengapa SCM penting di dalam E-commerce?

Karena dapat menghemat cost, menurunkan komplain, dan meningkatkan kepuasan customer atas produk yang dibeli.

Ada 3 fungsi dalam SCM

- Finance

- CRM

- Merchandising

Berikutnya akan membahas tentang proses dalam SCM

Product Sourcing

Ada 5 metode umum yang digunakan oleh berbagai perusahaan retail dalam e-commerce.

  1. Consigment

Sistem penitipan produk yang pembayarannya dilakukan setelah produk telah laku terbeli.

  1. Direct Purchase

Menggunakan sistem beli-putus. Maksudnya adalah sistem penitipan produk tetapi pembayarannya kontan.

  1. Private Label

Perusahaan mendisain, memproduksi produk dan menjual sendiri di website.

  1. Cross Dock

Menggunakan sistem penitipan, tetapi tidak ada stok. Jika ada orderan, kita yang mengambil produk ke gudang suplierdan mengirimkan produk ke customer.

  1. Dropship

Sistem penitipan hanya berupa gambar yang dipajang pada website. Jika ada orderan, pihak suplier yang akan mengambil dan mengirimkan produk ke customer.

Dalam setiap metode memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda. Ada 3 macam risiko, yaitu

Inventory Risk

Risiko berbentuk tanggung jawab atas produk, artinya mulai dari ketersediaan stok, tempat untuk menyimpan produk, dan jika habis, maka produk tidak habis maka kita akan mengalami kerugian.

Fulfillment Risk

Merupakan bentuk risiko yang berdasarkan pemenuhan order produk.

Restocking Risk

Risiko yang terjadi ketika produk habis dan hendak melakukan stok ulang.

imange dalam artikel

Warehousing

Proses Warehousing dalam Supply Chain Management

diagram 1

Proses dimulai dari masuknya produk dari suplier dan kemudian dikirimkan ke warehousing (WH).Sedikit penjelasan mengenai warehousing.

Melewati quality control (QC), produk akan dicek kondisi dan kelayakannya untuk dijual.

Jika produk lulus QC, maka akan diangkut dan masuk pada sistem WH.

Sebaliknya, jika produk tidak lolos QC, maka produk akan di karantina.

Pada tahap karantina, produk akan dipertimbangkan apakah akan dikirim kembali ke suplier atau diobral.

Product Launching

contoh

Produk yang telah diterima selanjutnya masuk ke pengambilan foto produk.

Kemudian mengalami proses editing dan akhirnya produk tersebutlaunching.

Proses awal dari warehousing sampai launching produk membutuhkan waktu 3-6 hari.

Order Fulfillment

diagram 3

Pada order fulfillment, proses dimulai ketika customer memesan produk.

Lalu pada bagian picking, customer memilih produk yang diinginkan.

Ada kendala dalam picking.

Misalnya, ada 12 stok produk.

Kemudian customer A klik pick 10, dan dalam beberapa hari belum melakukan pembayaran, jika ada customer B yang mau klik pick 3 maka tidak dapat diproses.

Karena masih pending di customer A.

Tetapi jika customer segera membayar transaksi, akan langsung berlanjut ke packing.

Masuk pada sistem, akan dicek produk apa saja yang sudah keluar.

Ketika sudah berada di pihak 3PL (third party logistic) atau lebih dikenal sebagai pihak ketiga yaitu kurir pengiriman akan segera memproses produk untuk diantarkan dan diterima customer.

After Sales Service

Setelah melalui semua proses, after sales service menjadi tahap yang paling krusial.

Ditahap ini Anda akan dapat mengetahui tingkat kepuasan customer yang telah membeli produk.

Pada gambar berikut ada 4 cara yang dapat dilakukan untuk mengukur tingkat kepuasan customer.

diagram 2

Dengan menerapkan 4 cara di atas, Anda secara otomatis akan menumbuhkan kepercayaan customer pada produk dan perusahaan Anda.

Setelah mengetahui tentang e-commerce, sekarang giliran Anda untuk memutuskan dan bergerak.

Bangun dan wujudkan ide usaha Anda menjadi kenyataan! Semoga artikel ini bermanfaat dan selamat mencoba!


( Viana )


DATA PENERIMA VOUCHER KURSUS ONLINE DAN KONSULTASI

  
  
Loading...



Komentar